Neo, Morpheus, Trinity dan Agen?


Masih ingat nama-nama tersebut? Yap the matrix. Sebuah film yang terdiri dari tiga seri. film ini menceritakan seorang hacker bernama neo yang kemudian “diculik” dari kehidupannya dan ditunjukkan realitas yang sesungguhnya: bahwa duniamu sekarang adalah program MATRIX. Hanyalah simulasi komputer. Halooo Neo kamu sedang bermimpi! Yang benar adalah dunia sekarang telah begitu muram dan dilanda perang. Dan kamu ditugaskan sebagai THE ONE, yang akan mengakhiri ini semua.

***

“Morpheus: Mengapa aku bisa mengalahkannmu?

Neo: Karena kau sangat gesit

Morpheus: Apakah kegesitanku ada hubungannya ototku di sini? Apakah kau mengira yang kau hirup sekarang itu udara?”

***
Dalam film ini, mesin telah menguasai dunia. Semacam AI , Artificial Intellegence, (benarmi tulisannya cika’?) Mereka mendapatkan energy “bioelektrik” dari manusia yang dibiakkan dalam kantung-kantung kecil dan diberi nutrisi dari sisa tubuh manusia lain yang telah dicairkan terlebih dahulu. Mirip seperti baterai. Ya baterai manusia hasil kloning.

Manusia tak bisa hidup tanpa pikiran menurut mesin ini, maka untuk menjaga mereka agar tetap hidup dibuatkanlah MATRIX. Sebuah realitas maya, bahwa mereka hidup, bersekolah, menikah di sebuah dunia yang indah. Padahal sebenarnya jutaan orang ini tinggal di kantung-kantung mirip telur yang tersambung dengan kabel-kabel.

Sebenarnya ini bukan tulisan review tentang trilogy The Matrix, saya hanya ingin memberi tahu bahwa kalau dalam film ini ceritanya manusia telah dimanfaatkan oleh mesin pintar ini. Sekarang justru jutaan orang telah mampu untuk justru terjun bebas dan dengan aman keluar masuk dalam dunia MATRIX.

Sesorang bisa sangat pendiam di dunia nyata, tapi tiba-tiba dia jadi sangat pengumpat di dunia cyber. Dua hari yang lalu saya membaca berita tentang seseorang yg memutuskan menikah dengan Nene Anegasaki, seorang gadis virtual, karakter video game. Tidak cuma itu dia merencanakan berbulan madu keliling dunia. Tentu saja sambil membawa nintendo DS-nya. Saya juga melihat begitu banyak perlawanan, "revolusi", ato apalah namanya di facebook, dan segalanya usai ketika sign out. Jangan-jangan dunia nyata telah begitu berat seperti perang antara mesin dan manusia seperti dalam the matrx:reloaded, klimaks trilogi film ini, sehingga banyak yang dengan sukarela tinggal dalam “kantung-kantung baterai manusia”. Menjadi bahagia di dunia matrix, menjadi superhero di dunia matrix, menjadi tampan di dunia matrix, menjadi presiden di dunia matrix, demonstran di dunia matrix.

Menjadi orang yang terpisah dari realitas (saya tidak tahu siapa yang bilang, hanya keren saja kedengaran)

Tidak perlu saya jelaskan lagi take me out itu apaan. Sejak pertama kali liat ini acara, saya langsung percaya bahwa ini acara pasti HOAX. Bikin senyum-senyum saja, mau-maunya dikibuli oleh tim kreatif yang punya acara. Sampai-sampai Agfan (bukan afgan) sepupu saya bertanya ini acara serius atau komedi semacam Opera Van Java ketika tertawa melihat ustad cinta. Imelda salah seorang anggota GMKB, gadis manis ketergantungan blackberry, tidak terima acara favoritnya dicalla-calla;


"tidak lucu tau!" katanya.

Ya memang tidak lucu.

Banyak bukti yang sudah menyebutkan memang salah satu pengeruk keuntungan terbesar di stasiun televisi ini adalah sebuah rekayasa, sepeti halnya termehek-mehek dan acara yang menyebut dirinya “reality show” yang lain, sebut saja “masihkah kau mencintaiku”. Beberapa penuturan mengatakan pemeran-pemeran dalam “show” tersebut diupah secara profesional. Makanya tidak heran kalau mereka bisa muncul dengan orang yang sama, tapi dengan nama dan pada “reality” yang berbeda. Skenario pun sudah ada, tinggal ngapalin aja. Bagaimana ada kawan-kawan yang tertarik?

***

Anggaplah tim keatif acara tadi punya kemampuan memelintir kisah-kisah dan membuat skenario untuk para pemirsa yang setia menuggu acaranya. Sekarang bayangkan bagaimana kalau orang-orang ini membuat reality show tentang fakta sebenarnya bumi ini gepeng seperti koin. Tidak bulat seperti bola kasti. Dibuatlah “Termehek-mehek: lost in space” atau “take me out antariksa.“ Pertanyaannya sekarang, Berapa persen orang di bumi yang percaya? :)

Mengenai kepercayaan, jutaan orang percaya bahwa bumi ini bulat. Tapi tahukah anda bahwa di dunia ini masih ada sekelompok orang bernama flat earther yakin seyakin-yakinnya planet ini rata. Mereka bahkan punya website dan tempat pertemuan di Inggris dan Amerika. Kelompok peyakin bumi rata ini bertemu secara berkala untuk menantang konspirasi bahwa bumi itu bulat. Pada abad ke 21, istilah flat-earther digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara spektakuler - dan nekad - acuh tak acuh. Masyarakat flat earthers percaya bahwa foto-foto bumi dari ruang angkasa itu palsu. Badan ruang angkasa berkonspirasi secara internasional untuk menipu publik guna mendapat keuntungan besar. Dan mreka akan menertawai sejadi-jadinya kalu kita mengatakan Kutub utara dan selatan seperti tampak di globe itu. Sesungguhnya yang benar adalah Kutub utara berada di tengah-tengah piringan bumi ini, dan kutub selatan (antartika) terdiri dari seluruh keliling Bumi.

Saya membayangkan bagaimana orang-orang ini dijejali informasi yang begitu Intens. Pernah dengar bahwa kesalahan yang terus menerus berulang pada suatu saat akan menjadi kebenaran? Lambat laun lupa. Begitupun di negeri ini. Katanya di republik amnesia ini pejuangan yang paling berat adalah perjuangan melawan lupa (tuh kan saya lupa lagi siapa yang bilang). Lupa bahwa otoriterisme itu tidak baik. Lupa ongkos sosial dan materi reformasi itu sangatlah mahal. Lupa nama-nama jenderal yang menembaki mahasiswa. Lupa bahwa kerakusan bisa membuat Tuhan menenggelamkan suatu negeri. Skenarionya sengaja dibuat oleh “tim-tim kreatif” yang handal, atau sekedar improvisasi dari pemerintahan yang penuh dengan program-program liar dan spekulatif. Entahlah.

Kembali ke reality show, ah sudahlah. Tidak usah dibahas, tujuannya cuma supaya catatan tidak penting ini tidak pendek-pendek amat. Penontonnya setianya ya itu tadi, flat earthers:)


28/11/09 kurang kerjaan menunggu mati lampu


Menurut Drs. Feri Yusuf Sanusi (dalam buku Indonesia berpacu dalam melodi; 1975) Di negeri ini, hidup adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis. Orang miskin menjawab kuis makan apa kita hari ini, sedangkan orang kaya berkutat dengan pertanyaan siapa yang akan kita makan hari ini.

Saya banyak mengikuti kuis di negeriku, mulai dari kuis oow siapa dia (betulmi?) yang bertanya siapa yang akan menjadi anggota dewan sampai presiden. Serta kuis apakah janji kampanye itu pasti ada suatu hari nanti?

“insya Allah nak” kata tetangga saya yang kebetulan juga ikut kuis.


Sekarang lagi seru-serunya masyarakat Indonesia terbius kuis “who want’s to be a prisoner”. Pesertanya konon kabarnya terbatas. Cuma untuk kalangan reptil. Baik yang kecil, sekecil upil sampai sebesar T-Rex. Menurut A.Bustanimudding,BA (dalam “analisis komprehensif-paradox-progressif-konseptual-determina
n untuk pemula; 2009). Kita baiknya wait and see, menonton dan mencermati kuis ini untuk melihat siapa yang bohong sebenernya. Atau paling anteng “join” pada wadah yang sangat massif dan ultra-revolusioner, yaitu: “Seluruh Penduduk Bumi Mendukung Godzilla”.

Kalau kurang sreg, tinggal gabung di tetangga sebelah saja: “Seluruh Penduduk Bumi Beserta Bapakmu Mendukung Jurassic park”

Di tempat lain, orang-orang ramai pada ikut kuis siapa berani. Tapi konon kabarnya pertanyaan terhenti pada titik 2 juta rupiah, karena pertanyaannya pelik amir. Pertanyaan misterius itu adalah “siapa yang berani memberantas korupsi di Indonesia”? maka peserta tampak sangat gelisah mencai jawaban yang tepat dan akhirnya memilih mundur dan membawa uang 2 juta rupiah.

Di Wikipedia pun saya yakin belum masuk databasenya. Pembuat kuisnya jangan-jangan sengaja untuk menanyakan hal yang tidak-tidak.

Tapi Rusdiyanto Jaffar (bukan nama sebenarnya) tidak kesulitan menjawab pertanyaan dari kuis siapa berani pada bagian: Kapankah PLN tidak rugi lagi dan Indonesia terbebas dari pemadaman bergilr?
Jawabannya pun sangat lugas: Sampe nenek lu jadi dirut pak……

1 juta rupiah untuk Rusdiyanto

***

Sementara yang elit-elit membuat dan mengikuti kuis yang elit-elit pula. Rakyat kecil masih berkutat pada pertanyaan-pertanyaan dasar. Mahal atau nyicil, makan atau sepiring berduabelas, mengemis atau ngamen, buruh atau kuli, puskesmas atau dukun, koran bekas atau kardus, miskin atau melarat, mati atau dibunuh, digusur atau digilas. Tak terlalu banyak pilihan memang bagi sebagian orang di negeri ini. Kesejahteraan itu ada di spanduk dan baliho, iklan visit indonesia year, iklan KFC, dan acara apartemennya fenny rose.

Ibunya anak-anak (bukan anak-anak saya) mengeluh semakin mahalnya ongkos untuk hidup di Indonesia. Kata saya mahal bisa berarti berbeda, mahalnya konglomerat berarti harga apartemen mewah, parfum impor, perluasan lapangan golf (tidak ada hubungannya dengan rani). Tapi kata teman saya (inisial: BCL- bukan bunga citra lestari) yang keberatan namanya dipublikasikan di sini, mahal bagi dia adalah sekolah bagi anak-anaknya, harga buku, harga minyak tanah, mahal juga berarti tidak sengaja menyerempet mobil dengan stiker “keluarga besar polisi militer", mengeritik orang (ingat kalimat: Kau akan membayar mahal atas semua ini!) atau datang berobat ke rumah sakit dengan wajah seperti penulis blog ini... (maksudmu??!!)

Sebaiknya tulisan ini segera diakhiri karena semakin tidak ilmiah

Wassalam.